Jurus Baru Homestay di Desa Sangkuliman Kukar: Seni Melipat Serbet dan Handuk
Seni melipat serbet dan handuk diajarkan kepada masyarakat di Desa Wisata Sangkuliman --Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pelbagai bentuk dibuat. Dari bunga hingga bebek.

PROSES pembuatan napkin folding dan towel folding ini, merupakan rangkaian pelatihan sekaligus kegiatan pendampingan manajemen pengelolaan homestay. Penggagasnya, tim dosen pendamping dari Politeknik Negeri Samarinda (Polnes).
Dalam sesi praktik itu, masyarakat dilatih melipat serbet meja makan dengan lima model lipatan. Teknik ini diajarkan untuk mempercantik tampilan hidangan di meja makan. Tentu agar tamu merasakan kesan istimewa sejak kali pertama duduk.
Praktik berikutnya, belajar melipat handuk dengan pelbagai bentuk yang diletakkan di atas kasur. Kreativitas ini memberi sentuhan eksklusif serupa hotel berbintang, sekaligus meningkatkan kepuasan tamu yang menginap.
M. Fauzan Noor, SE.Par., M.Par., MMHTRL, narasumber kegiatan ini, menjelaskan Desa Wisata Sangkuliman terus berbenah untuk menjadi destinasi unggulan berbasis kearifan lokal. Salah satu upayanya adalah pendampingan manajemen pengelolaan homestay.
Di kegiatan ini, masyarakat –khususnya pemilik homestay– diberikan pembekalan mengenai standar pelayanan, tata kelola, hingga strategi menarik wisatawan agar merasa nyaman dan betah tinggal lebih lama. Materi yang disampaikan menekankan, homestay bukan sekadar tempat menginap, melainkan bagian dari atraksi wisata itu sendiri.
“Homestay harus mampu menghadirkan pengalaman autentik. Wisatawan datang bukan hanya mencari kamar bersih, tetapi juga ingin merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal,” jelas Fauzan.
Dalam paparannya, ia menekankan tiga poin penting. Pertama, fungsi homestay meliputi akomodasi, sarana edukasi, interaksi budaya, dan pengenalan kearifan lokal. Kedua, keunggulan homestay terletak pada nuansa kekeluargaan dan kesempatan wisatawan untuk ikut terlibat dalam aktivitas harian pemilik rumah.
“Ketiga, standar layanan mencakup kebersihan kamar, keamanan, keramahan tuan rumah, serta penyediaan informasi sederhana tentang destinasi sekitar,” terang Fauzan.
Selain itu, masyarakat juga diperkenalkan dengan Standar Usaha Pondok Wisata yang menekankan pada tiga aspek Utama. Yakni produk, pelayanan, dan pengelolaan. Hal ini mencakup fasilitas utama seperti kamar tidur dan toilet yang bersih, fasilitas penunjang seperti dapur dan tempat sampah tertutup, hingga sistem administrasi sederhana untuk pencatatan tamu.
Makanya, di antara semua rangkaian pelatihan itu, mereka juga diajarkan untuk menerapkan Sapta Pesona –aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan– sehingga homestay di Dsa Wisata Sangkuliman bisa bersaing dengan destinasi lain.
“Para peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang tata kelola homestay, standar pelayanan, hingga strategi meningkatkan daya tarik wisata berbasis masyarakat, tetapi juga diajak praktik langsung seni pelayanan kreatif,” papar Fauzan.
Dengan adanya pelatihan ini, Desa Wisata Sangkuliman diharapkan siap menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan. Homestay yang dikelola secara professional, tetap berakar pada nilai-nilai lokal akan memperkuat citra desa sebagai destinasi wisata berkelanjutan.
“Homestay bukan sekadar tempat tidur, tetapi pintu masuk wisatawan untuk mengenal budaya, tradisi, dan keramahan masyarakat. Inilah yang akan membuat mereka rindu untuk kembali,” tutup Fauzan.
DISAMBUT ANTUSIASME
Pelatihan seperti ini, tentu saja mendapat respon positif hangat dari masyarakat Desa Wisata Sangkuliman. Banyak dari mereka kemudian peserta menyadari, pentingnya menjaga standar layanan. Utamanya, soal kebersihan kamar dan toilet.
“Wisatawan akan lebih betah jika fasilitas homestay terawat dan suasana rumah terasa ramah,” ujar salah satu pengelola homestay di Desa Wisata Sangkuliman.
Kepala Desa Sangkuliman, Suhaimi, juga menyambut baik pelatihan ini. Ia menegaskan, peningkatan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan homestay, akan menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Desa Wisata Sangkuliman dalam persaingan destinasi unggulan.
“Dengan perpaduan antara tata kelola profesional, pelayanan ramah, dan sentuhan seni, homestay di Desa Wisata Sangkuliman siap memberikan pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan,” ucapnya. (*)



