
Oleh:
Ananda Putri Aisyah Nur B
Siapa sih yang enggak kenal dengan Naykilla? Seorang penyanyi dengan aliran hipdut yang lagi naik daun belakangan ini. Selain musiknya yang memadukan dangdut dan hip-hop, penampilannya juga menjadi bahan pembicaraan. Di tengah tren fashion yang didominasi gaya clean, minimalis, dan serba netral, Naykilla justru tampil berani. Dengan percaya diri, ia tampil menggunakan warna-warna mencolok, aksesori yang berlapis, makeup yang playful, serta siluet busana yang mengingatkan pada era 1990-an hingga awal 2000-an.
Sebagian orang menyebut gayanya “centil”. Sebagian lagi menganggapnya nyentrik. Namun dari pengamatan saya, style Naykilla bukan sekadar tampil ramai. Dalam salah satu podcast, pelantun lagu “SO ASU” ini mengatakan sejak kecil ia terpapar dengan penampilan centil biduan di era tahun 2000-an. Sehingga dapat dikatakan bahwa ia menggunakan gaya tersebut dalam berkarir sebagai bentuk identitasnya. Hal ini selaras dengan hasil riset oleh Zulfa Ulfia, bahwa fesyen tidak lagi berfungsi sekadar sebagai penutup tubuh, melainkan telah berkembang menjadi medium komunikasi nonverbal yang kompleks untuk mengekspresikan identitas, nilai-nilai, dan negosiasi antara tren global dengan norma lokal.
Tidak hanya itu, dari pandangan saya, Naykilla seperti membawa kembali estetika yang pernah menjadi bagian dari budaya pop dan street fashion Asia, khususnya Jepang. Hal itu terlihat dari pemilihan aksesori, permainan warna, hingga keberaniannya memadukan berbagai elemen yang mungkin bagi sebagian orang terlihat bertabrakan.
Dari pengamatan tersebut, saya melihat gaya Naykilla memiliki elemen yang dekat dengan gyaru. Dikutip dari artikel “Gyaru Subculture: Fesyen Jepang yang Unik” yang ditulis oleh Arsyka Latifah Ramadhan, gyaru berasal dari kata gal atau girl yang berarti “gadis muda” atau “anak perempuan”.
Tren Gyaru sendiri pertama kali muncul di Shibuya, Tokyo, pada tahun 1970-an dan mencapai puncaknya pada 1990-an hingga awal 2000-an. Tren ini muncul sebagai bentuk pemberontakan terhadap stereotip kecantikan khas Jepang yang mengutamakan kulit pucat dan rambut gelap. Ciri khas gyaru meliputi rambut berwarna mencolok, makeup tebal dan dramatis dengan fokus pada mata, rok mini dan high heels, serta aksesori berlimpah seperti jepit rambut besar dan kalung mencolok.
Dalam konteks Generasi Z, semangat yang ditunjukkan Naykilla ini terasa selaras dengan kecenderungan penolakan atas homogenitas dan mengambil kendali kreatif atas cara menampilkan diri. Elsa Khairunnisa Negara dalam skripsinya yang berjudul Identitas Diri Melalui Penggunaan Fashion Streetwear sebagai Keunikan Karakter bagi Generasi Z menunjukkan bahwa fashion berkontribusi dalam memperkuat identitas diri Gen Z sebagai keunikan karakter, namun tidak menjadi satu-satunya penentu identitas individu. Ini bukan sekadar soal penampilan, tetapi tentang bagaimana seseorang mengomunikasikan siapa dirinya kepada lingkungan sosial.
Meski demikian, style Naykilla bukanlah reproduksi utuh dari tren gyaru. Ia menghadirkannya dalam versi yang lebih relevan dengan selera masa kini. Aksesori yang dikenakan tidak sebanyak saat tren ini menggema di era 2000-an. Siluet busananya lebih simple, dan pemilihan warna tetap berani tapi masih cukup balance. Hal ini juga sejalan dengan catatan Arsyka Latifah Ramadhan bahwa saat ini mereka yang memiliki fesyen gyaru telah melunakkan gaya eksentriknya, meskipun ada pula yang tetap menampilkan fesyen gyaru yang sebenarnya dan tidak ingin kehilangan ciri khas tersebut.
Proses adaptasi semacam ini erat kaitannya dengan apa yang disebut sebagai “symbolic nostalgia”. Yakni kerinduan simbolis terhadap era yang tidak dialami secara langsung. Tetapi dikenali melalui media, gambar, dan narasi. Shin Ji Hyun dkk. (2026) mengungkap bahwa bagi Generasi Z, pakaian bekas dan elemen vintage bukan sekadar produk, melainkan medium simbolik yang membawa makna temporal dan ingatan budaya. Ini memungkinkan para Gen-Z mengekspresikan nilai-nilai sekaligus menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Fenomena dari booming-nya Naykilla menunjukkan bahwa fashion memang bersifat siklus. Apa yang dahulu dianggap terlalu ramai, berlebihan, atau bahkan norak, perlahan kembali diterima sebagai sesuatu yang segar. Pergantian generasi membuat makna sebuah gaya ikut berubah.
Bagi saya, di sinilah letak menariknya style Naykilla. Ia memperlihatkan bagaimana sebagian Gen Z memandang fashion bukan sekadar cara berpakaian, melainkan cara berkomunikasi. Bahkan jadi sebuah proyek identitas. Penelitian Nabila Dwi Abisya tentang fashion sebagai bentuk identitas diri pada mahasiswa Universitas Negeri Surabaya menemukan bahwa sengaja mengatur dan peduli pada penampilan merupakan bentuk penyampaian pesan dan kesan tertentu kepada lingkungannya. Misalnya ingin terlihat santai, mudah bergaul, dan ramah agar mudah diterima. Naykilla, dengan caranya sendiri, melakukan hal serupa: ia dengan sadar membangun citra melalui pilihan-pilihan estetikanya.
Tentu, tidak semua Gen Z memilih cara berekspresi seperti Naykilla. Ada yang tetap nyaman dengan gaya minimalis, ada pula yang menyukai estetika klasik. Namun, keberanian Naykilla menghidupkan kembali elemen-elemen fashion yang pernah populer menunjukkan bahwa identitas tidak selalu dibangun dari sesuatu yang benar-benar baru. Kadang, identitas lahir dari cara seseorang mengolah kembali referensi lama menjadi sesuatu yang terasa segar dan autentik.
Pada akhirnya, yang membuat style Naykilla menarik bukan semata-mata karena ia mengenakan pakaian yang unik. Daya tariknya terletak pada keberaniannya menjadikan fashion sebagai bahasa. Lewat setiap aksesori, warna, dan siluet yang ia pilih, Naykilla mengingatkan bahwa berpakaian tidak selalu soal mengikuti tren, tetapi juga tentang menyampaikan siapa diri kita.
—
Referensi
1. Ulfia, Z. (2026). Komunikasi Artifaktual pada Fashion Muslimah Generasi Z di Banda Aceh. Skripsi. UIN Ar-Raniry. Tersedia di: https://repository.ar-raniry.ac.id/57329/
2. Ramadhan, A. L. (2025). Gyaru Subculture: Fesyen Jepang yang Unik. STBA Yapari. Tersedia di: https://jepang.stbayapari.ac.id/2025/09/12/gyaru-subculture-fesyen-jepang-yang-unik/
3. Negara, E. K. (2026). Identitas Diri Melalui Penggunaan Fashion Streetwear sebagai Keunikan Karakter bagi Generasi Z. Skripsi. Universitas Nasional. Tersedia di: https://repository.unas.ac.id/id/eprint/16256/
4. Shin, J. H., dkk. (2026). Wearing the Past: Constructing Identity through Symbolic Nostalgia in Generation Z’s Secondhand Clothing Consumption. Korean Fashion & Textile Research Journal, 28(2), 178–188. Tersedia di: https://www.kci.go.kr/kciportal/landing/article.kci?arti_id=ART003333201
5. Abisya, N. D. (2022). Fashion as a Form of Self-Identity on Students of the State University of Surabaya. The Commercium, 5(3), 68–78. Tersedia di: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/Commercium/article/view/48259



