
DEKADE.id, Samarinda – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Kota Samarinda menerima ratusan peserta magang nasional dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Batch 2. Program ini menjadi solusi bagi rumah sakit milik Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
DI Batch 2 ini, RSUD IA Moeis menyerap sebanyak 112 peserta. Mereka berhasil menyisihkan 477 pelamar dalam proses seleksi.
Direktur RSUD IA Moeis Samarinda, dr Osa Rafshodia, mengatakan penerimaan kali ini merupakan lanjutan dari batch pertama yang sebelumnya hanya menerima 97 peserta. Ia menyatakan mendapat kepercayaan lebih besar dari Kemnaker. Hal itu menyusul keberhasilan pelaksanaan program pada batch sebelumnya.
“Batch 1 kemarin kan 6 bulan tuh, kan di awal tahun. Nah, kemarin sudah habis. Terus kami dapat kemarin, saya dihubungi lagi sama Kemenaker dapat lagi batch 2, terus diperbesar porsinya. Jadi 112 formasi jabatan,” ulasnya.
Kata Osa, program magang nasional ini menjadi solusi tepat di tengah kebijakan efisiensi yang membatasi belanja pegawai maksimal 30 persen dari total anggaran daerah.
Dengan skema ini, kebutuhan tenaga kerja rumah sakit tetap bisa terpenuhi tanpa menambah beban belanja pegawai. Sebab seluruh pembiayaan peserta magang ditanggung langsung oleh pemerintah pusat. “Ya solusinya ini, magang, karena yang bayar dari pusat,” urainya.
Osa menyampaikan, terdapat 23 formasi jabatan yang dibuka dalam program ini. Dengan kebutuhan terbesar berada di posisi perawat, bidan, tenaga gizi, hingga tenaga administrasi.
Ia menjelaskan program ini sangat membantu. Mengingat kebutuhan tenaga kerja di rumah sakit yang dipimpinnya memang masih cukup tinggi. Sementara ruang belanja pegawai kini dibatasi kebijakan efisiensi.
“Kita dapat perawat, bidan, tenaga gizi, CSSD untuk sterilisasi, segala macam, tapi yang bayar pemerintah pusat. Jadi kita enggak masuk belanja pegawai, tapi pegawainya dapat,” ucapnya.
Selain itu, Osa menerangkan, meski pelamar program ini datang dari berbagai daerah. Termasuk luar Samarinda, pihaknya tetap mengutamakan pelamar asal Samarinda untuk turut menyerap tenaga kerja lokal.
Osa juga mengungkapkan, di Kalimantan Timur (Kaltim), hanya ada dua rumah sakit yang mendapat kesempatan menerima peserta magang nasional ini. Yakni RSUD IA Moeis Samarinda dan RS Siloam Balikpapan. “Yang lain enggak dapat, karena banyak yang dinilai sama pemerintah pusat,” ungkapnya.
Selain itu, Osa menekankan, sejumlah aspek yang menjadi bahan penilaian pemerintah pusat. Antara lain kesehatan keuangan rumah sakit, hingga efisiensi pelaksanaan program prioritas seperti penurunan angka kematian ibu hamil dan perluasan layanan.
Osa mencontohkan, RSUD IA Moeis dalam dua tahun terakhir cukup banyak melakukan perluasan layanan, mulai dari pembukaan poli baru hingga pembangunan gedung baru, yang turut dinilai bersama kondisi keuangan rumah sakit.
“Kita masuk kategori sangat baik, makanya nambah pesertanya,” ujarnya.
Osa menegaskan, penerimaan peserta magang ini berawal dari pengajuan pihak rumah sakit sendiri, dengan sejumlah syarat yang harus dipenuhi, seperti predikat pelayanan publik hingga indikator kesehatan keuangan, termasuk ada tidaknya temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Ke depan, Osa berharap program magang nasional ini bisa terus ditingkatkan, mengingat program ini turut membuka lapangan kerja bagi masyarakat Samarinda.
Ia menargetkan penerimaan peserta magang bisa mencapai 150 hingga 170 orang untuk seluruh formasi pada periode berikutnya untuk dapat membantu mengurangi tingkat pengangguran di Kota Tepian.
“Jadi kita ikut membantu peningkatan ekonomi Samarinda mengurangi angka pengangguran terbuka di Samarinda,” tandas Osa. (*)



