
Oleh:
Angelina Martianto
Siswi Kelas XI AKL 2, SMK Negeri 1 Samarinda
Kacamata persahabatan –kalau ada penghargaan untuk tim paling gak jelas tapi bisa sejauh ini untuk bertahan di SMK pasti akan jatuh ke tangan kami berenam. Memasuki kelas dua atau masa aud di SMK ini aku mulai menyadari, bahwa bertemu empat bidadari yang diusir dari kayangan adalah keputusan paling nekat tapi terbaik yang pernah terjadi di masa masa sekolah. Lingkaran pertemanan ini bukan lagi sekedar menyapa di depan kelas atau lapangan tapi tentang survival kit utama buat bertahan hidup di tengah riuhnya jadwal dan praktikum di sekolah.

Hai, aku Angelina, sering dipanggil Angel, aku adalah siswi dari SMK Negeri 1 Samarinda yang memiliki 5 sahabat, oh lain biasa aku panggil mereka 5 bidadari dari kayangan yang pastinya di usir. Kalau harus mengulas dan meriview 5 bidadari tersebut aku bingung harus mulai dari mana, pasti kalian bertanya kenapa bingung? Alasan yang bisa ku kasih ya karna mereka berlima cukup ajaib tapi ajaibnya saling melengkapi. Ada Azka seorang wanita yang memiliki keturunan dari Bali dan Arab, paras nya yang begitu cantik sering kali membuat orang lain merasa kalau dia anak yang alim atau bahkan pendiam. Tapi itu kesalahan yang besar, kenapa? Awal masuk SMK akupun menganggap dia anak pendiam dan bisa di bilang alim banget, ternyata setelah 2 tahun bersama akan selalu ada kelakuan random baru di setiappp harinya.
Lalu, ada Tasya, seorang perempuan yang berasal dari daerah NTT, manis tapi pedas, kenapa pedas? Karna setiap ucapan yang dia lontarkan akan selalu perih dihati tapi itu kenyataan, dia tidak akan bilang manis kalau kenyataan nya garam itu asin. Awal masuk dia anak yang pendiam sama persis seperti Azka tapi selang 1 minggu oh atau bahkan belum genap 1 minggu, suara melengking nya sudah menghiasi hari hari kami. Sekarang kita akan membahas Afifah atau yang biasa aku panggil Ipeh, dia adalah perempuan yang tadinya aku kira adalah anak guru yang sudah pulang sekolah lalu ikut mamanya kerja, tapi ternyata dia adalah teman seangkatan ku, badan nya yang mungil membuatku mengira hal aneh tersebut. Tapi kali ini berbeda aku tidak menganggap dia orang yang pendiam, karna dari MPLS pun suara dan tatapan matanya sudah cukup menggambarkan bagaimana keseharian yang harus di lewati oleh teman sekelas kelak.
Baik, kita mulai mengenal Aisha, atau biasa aku sebut imut, kenapa imut? Karena suara nya yang sangat khas dan lucu, aku kira itu hanya sebuah bercandaan karena waktu itu istilah “pick me girl” sedang hits. Ternyata tidak, suaranya memang seperti itu dan sifat nya pun lemah lembut. Yang terakhir, ada Alicia, aku manggil dia Cia, dia ini tipe orang yang gak mau ribet, tapi gak mau santai santai juga, tiap pagi yang harus ku saksikan adalah dia yang sedang membaca sebuah buku atau bahkan membuat rangkuman kecil untuk dirinya, ambis bukan? Ya dia sangat ambis tapi juga asik gak yang melulu bahas pelajaran.
E-ehh sebentar, kayaknya dari tadi aku mengenalkan 5 bidadari yang di usir dari kayangan itu aja deh, sekarang kalian juga harus tau aku! Aku adalah seorang anak perempuan yang cukup ambis dalam pelajaran, tapi tingkah ku gak kalah ajaib sama sahabat sahabat ku tadi. Awal masuk sekolah mereka menganggap aku adalah cici Chinesse yang pendiam dan gak bisa bersuara kencang. Oh tapi tidak aku adalah anak keturunan Batak Jawa yang pasti suara ku melengking gak kalah melengking dari Tasya dan Ipeh. Aku juga gak kalah cantik dengan mereka ber5 tapi aku akui aku kalah tinggi dari mereka.
Melihat dari sudut pandang orang normal pastinya kombinasi keajaiban kami, ada yang cantik tapi random, ada yang manis tapi omongannya pedas, ada yang mungil tapi galak, ada yang kelewat lembut, ada yang ambis, dan ada aku yang siap meramaikan suasana dengan suara khas Batak-Jawa-Ku. Pasti mereka dan kalian akan terheran heran, dan akan penuh dengan pertanyaan “bagaimana kalian bia bertahan disatu lingkaran yang sama?”. Dari sudut pandang review jujurku, justru keajaiban keajaiban itulah yang akan membuat masa masa SMK ini lebih berwarna, gak hanya tinta hitam dan merah dari guru yang menyoret jawaban salah kami di buku tugas atau ulangan.
Diantara tumpukan laporan laporan transaksi yang harus kami buatkan jurnal nya, omelan guru, sampai jadwal sekolah yang sangat padat sampai sampai kami seperti orang yang tidak berhenti membajak sawah secara manual selama 1 minggu, 5 bidadari “buangan kayangan” ini adalah alasan utama kenapa aku selalu punya semangat buat datang ke sekolah setiap pagi hari yang sebenarnya begitu menyiksa.
Kami adalah orang unik yang memiliki cara sendiri untuk bertahan di SMK: saling pinjam catatan (terimakasih Cia!), melempar lelucon acak saat suasana lagi tegang (bagian Azka sih ini), meramaikan suasana kelas yang sepi (inii tugas Ipeh Tasya dan aku pastinya), sampai jadi penenang saat emosi mulai naik (tentu saja ini bagian bidadari imut kami, Aisha). Tapi jangan kalian kira kami hanya sekelompok bidadari yang akan selalu akur, itu salah besar, kami juga sering sekali menghadapi situasi dimana kami saling bersitegang, yaaa itu wajar. Mungkin kalian kira alasan terjadinya hal tersebut karna kelakuan kami yang ajaib, tapi tidak selalu begitu, alasan paling besar kenapa kami pernah ada di situasi yang sahabat manapun tidak ingin merasakan ya karna kami di adu domba. Oleh siapa? Ya yang pasti bukan domba domba dari film Shaun The Sheep!
Baik, aku tau kalian kepo, pasti kalian sedang menerka nerka siapakah dalang dari keributan 6 bidadari yang sudah di buang dari kayangan, aku tidak akan menjelaskan siapa dia, tapi yang pasti aku cukup kecewa adanya hal hal seperti itu. Tapi tapi tapi di sisi lain aku sih fine aja, mungkin kalian bakalan nanya “kenapa fine aja? Persahabatan loh ini!” ya ya ya aku paham, ini adalah persahabatan, tapi nasi goreng apabila hanya berisi nasi tidak ada bumbu lain maka rasanya gak enak kan? Dan gak akan menyatu dengan selera kita kan? Ya begitulah persepsiku tentang persahabatan. Pertengkaran, keributan, keslahpahaman, atau bahkan gangguan dari luar itu adalah bumbu agar kami lebih saling mengerti, mengenal, memahami, dan berusaha mendegar.
Situasi dimana kami harus mencar jalan keluar untuk sebuah masalah kecil tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama, “kenapa bisa?” KOMUNIKASI adalah hal terpenting yang selalu kami utamakan. Kenapa komunikasi? Karena dari situ kita bisa menjelaskan apa yang kita dengar, dan apa yang sebenarnya terjadi, rumit? Ya jelas rumit. Bayangkan saja 6 bidadari ini harus saling mengalah dan memahami lebih dalam, tapi tenang kami berhasil melalui ny. Dari kejadian itu kami belajar bahwa gak semua orang menyukai kedekatan kami (meskipun harusnya hanya beberapa). Kalo ditanya orang itu minta maaf? Yaaaa dia sih minta maaf tapi kami jadi harus lebih berhati hati, kami memaafkan kok cuman waspada aja. By the way, kejadian ini kami anggap test persahabatan.
Sekarang kami sudah ada di kelas 2 atau biasanya di bilang aud. Ya kami sudah aud sebentar lagi bakalan jadi agit deh. Perjalanan kelas 10 itu terasa cepat, menarik, tapi banyak hal yang menganggetkan, kami punya banyak kenangan, mulai dari makan bareng tiap Jumat di Gacoan, photo booth bareng kalo ada event di sekolah atau bahkan di tempat hits yaaa di Citra Niaga atau Alaya. Kami juga suka mengabadikan momen yang sebenarnya memalukan tapi itu yang akan dibahas dan dikenang. Masa masa kelas 2 ini memang baru saja dimulai, dan jujur bayangan tentang masa depan serta tugas akhir SMK yang makin berat kadang buat kami was was, bahkan kami terpikir “setelah ini mau jadi apa? Mau kemana? Dan harus ngapain?”, namun momen dimana kami semua terasa capek, setres, bingung, dan gaktau harus apa bahkan rasa mau menyerah itu muncul, aku Cuma perlu lihat wajah kelima bidadari yang dibuang dari kayangan untuk sadar: aku gak pernah berjuang sendirian, ada mereka di setiap perjalanan SMK kami.
Perjalanan kami dari anak baru yang baru saja lulus dari gerbang SMP, yang saling salah sangka saat MPLS sampai jadi rombongan paling bising kalua harus di satukan (karena kami gak duduk bareng, memang kami sekelas tapi deretan kami berbeda) adalah bukti kalua persahabatan ini bukan cuma sebuah kebetulan. Jadi buat Azka, Tasya, Ipeh, Alicia, dan Aisha—sesuai dengan judul tulisan ini: “UDAH NYEMPLUNG BARENG DARI AWAL, AWAS AJA YA KALAU ADA YANG CUMA NUMPANG LEWAT!”
Kita sudah sangat jauh, kita sudah melewati berbagai macam test dalam persahabatan ini, mulai dari tumpukan tumpukan transaksi yang menanti untuk kita jurnalkan, diadu domba orang lain, sampai bingung mikirin masa depan. Dari yang tadinya duduk berderet dari depan ke belakang—mulai dari Cia di depan, aku dan Azka di belakangnya, Tasya di baris berikutnya, Ipeh di sebelah kanan, sampai Aisha yang berada di deretan ke-5—sekarang posisi duduk berjarak itu tidak menghalangi kita untuk terikat jadi satu paket lengkap yang paling bising, bahkan 1 kali tatapan mata kita bertemu saja kita sudah mengerti tanpa harus menjelaskan.
Masa-masa aud ini mungkin bakal makin berat, dan status agit sudah menanti di depan mata. Tapi selama kita berenam masih pegang kunci yang sama—komunikasi, saling memahami, dan siap meramaikan kelas yang penuh dengan kluhan “akuntansi sulit banget”—aku yakin kita bakal bisa melewatinya. Terima kasih sudah jadi warna paling terang di masa-masa SMK-ku. Mari kita nikmati sisa hari-hari gila ini bareng-bareng, dan pastikan di hari kelulusan nanti, foto photobooth terbaik kita adalah saat kita berenam berdiri berdampingan memakai baju terbaik dan memegang ijazah kita dengan formasi yang lengkap. Deal? (*)



