
dr Aji Sofyan Effendi
Dosen Unmul/Pengamat Ekonomi
Pernahkah buhan pian membayangkan mengurus administrasi atau pelayanan publik di tingkat kota tanpa harus mengerutkan kening karena alur yang berbelit-belit? Di Samarinda, bayangan itu perlahan tapi pasti sudah menjadi kenyataan.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Dr. Andi Harun, Samarinda baru saja menorehkan prestasi yang bikin warga merasa ada kebanggaan. Yang paling anyar dan segar dari oven: Samarinda dinobatkan sebagai kota penyelenggara pemerintahan dengan predikat Sangat Baik (Nilai A) dalam hal simplifikasi birokrasi pelayanan, dengan skor mentereng 84,77!
Birokrasi yang dulu identik dengan kata “ribet”, kini berubah menjadi “simpel” Tentu saja, ini bukan sulap bukan sihir, semudah membalikkan telapak tangan, melainkan buah dari komitmen kerja keras.

Sebelum kita bicara soal angka-angka birokrasi, mari tengok dulu bagaimana wajah Samarinda hari ini. Kota ini adalah “Miniatur Indonesia”. Semua suku, bahasa, dan budaya campur aduk di sini. Alih-alih memicu gesekan, di tangan dingin Andi Harun, keberagaman ini justru dirajut menjadi harmoni yang adem, guyub, dan diikat oleh satu spirit kuat Keindonesiaan
Tak heran jika penghargaan nasional di bidang dedikasi budaya berhasil dibawa pulang. Ke Samarinda. Bukan cuma urusan hati dan budaya yang dijaga, urusan isi dompet dan piring warga juga jadi prioritas.
Di tengah badai ketidakstabilan ekonomi global dan nasional, Samarinda sukses menjinakkan inflasi. bagi sistim ekonomi inflasi adalah momok yang menjadi hantu dan menakutkan karena akan memperparah angka kemiskinan, di Samarinda Harga sembilan bahan pokok terjaga stabil. Bagi Pemkot Samarinda, ini bukan sekedar angka statistik di atas kertas, tapi ini adalah taruhan harga diri pemerintah untuk memastikan rakyatnya bisa makan dengan tenang, Samarinda akhirnya terpilih sebagai salah satu kota yang relatif stabil inflasinya dan mendapatkan penghargaan secara nasional!
Kerja Senyap TWAP dan Pasukan di Balik Layar
Tentu saja, sang Wali Kota tidak berjalan sendirian. Capaian mentereng ini adalah hasil kerja keroyokan yang solid. Ada sinergi apik antara Forkopimda, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga para ASN yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Namun, ada satu motor penggerak yang tak boleh dilupakan: TWAP (Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan). Di bawah komando Syafarudin, S.Sos, tim ini layaknya “pasukan khusus” (Kopassus-nya Samarinda) yang bekerja 24 jam memonitor di lapangan.
Tugas mereka? Memastikan Samarinda selalu dalam kondisi baik-baik saja! Dari urusan banjir yang bikin pusing, infrastruktur, longsor, sekolah bermasalah, hingga isu sensitif seperti penanganan stunting, semua dikawal ketat. Termasuk mengawal suksesnya program andalan PROBEBAYA dan optimalisasi BUMRT agar langsung berdampak ke akar rumput.
Sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda jelas memikul beban yang tidak ringan. Kompleksitas masalahnya tinggi, terlebih di tengah sorotan publik terhadap dinamika Provinsi Kaltim saat ini. Namun, lewat manajemen kepemimpinan yang taktis dan bijak, satu demi satu benang kusut masalah kota berhasil diurai.
Pemerintah Kota Samarinda pun patut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat atas penilaian yang sangat objektif ini. Predikat A untuk birokrasi yang simpel ini adalah bukti bahwa Samarinda tidak sedang jalan di tempat, melainkan sedang berlari melakukan lompatan besar.
Pada akhirnya, piala dan piagam penghargaan ini bukan sekadar pajangan untuk Wali Kota atau para pejabat daerah semata. Ini adalah kehormatan bagi seluruh penyelenggara pemerintahan, dan yang paling penting: ini adalah hadiah manis untuk seluruh warga Kota Samarinda.
Kini, Samarinda bukan lagi kota yang sekadar sibuk, tapi kota yang bergerak cerdas, simpel, dan makin nyaman untuk semua. Samarinda, Bisa! (ASE)



