
Oleh:
Angelina Martianto
Kelas XI AKL 2, SMK Negeri 1 Samarinda
Kalau ada orang yang bilang cowok dan cewek tidak bisa murni bersahabat, dulu aku bakal jadi orang pertama yang mendebatnya. Lagipula, apa yang romantis dari seorang sahabat yang kesehariannya Cuma mengejek, minta bagi cemilan, atau pamer nilai ujian yang hanya beda tipis? Tapi Samarinda di jam 5 sore ternyata punya caranya sendiri untuk memutarbalikkan logika.
Sejak awal rumus hubungan kami itu sangatlah sederhana; ‘siapa yang kalah taruhan nilai ujian, dia yang harus bayar es teh di kantin’. Tidak ada kalimat manis, apalagi adegan drama picisan. Yang ada hanya suara tawa yang sebenarnya akan melemparkan ejekan, suara langkah kaki yang meramaikan koridor sekolah yang akan saling menyerang satu sama lain dengan cara menyenggol, serta aksi usil yang membuat setiap orang yang menyaksikan akan mengelus dada mereka, tanda untuk sabar melihatnya.
Kami bukan sepasang murid yang seragamnya sama setiap pagi. Dia berangkat dengan seragam SMA-nya yang padat jadwal Fisika dan teori teknik, sementara aku berjalan menuju SMK dengan almamater dan baju jurusan khas Akuntansi serta tumpukan lembar kerja, tidak lupa kalkulator sebagai malaikat penolong. Dua sekolah beda, dua jalur beda. Tapi kalau ada yang bilang kami tidak bisa nyambung, mereka jelas tidak tahu berapa lama kami sudah berjalan bersama.

Hubungan ini bukan kemarin sore. Kami sudah bersahabat sejak kelas 1 SMP, masa-masa di mana kepolosan kami masih diisi dengan berebut camilan di kantin dan saling ejek nama orang tua, serta rebut di pagi hari hanya untuk menanyakan “kamu sudah ngerjain tugas ini? Bagiii dongg”. Sekarang, tanpa terasa kami berdua sudah ada di kelas 11. Karakter kami berkembang, seragam sekolah kami bercabang, tapi posisi kami di hidup satu sama lain tidak pernah bergeser sedikit pun.
Hampir setiap jam lima sore, Tepian Mahakam jadi markas tidak resmi tempat kami mendarat. Di atas meja lipat pinggir jalan, pemandangannya selalu sama: modul Fisika dan tugas SMA miliknya bertumpuk acak di sebelah kalkulator dan kertas kerja Akuntansiku. Sistem barter kami sederhana, tapi krusial untuk menyelamatkan nilai sekolah masing-masing di semester pertengahan SMA ini.
Setiap kali pelajaran Matematika di sekolahku datang dengan soal-soal rumit yang bikin otak pusing setengah mati, dia dengan tampang sok tenangnya khas anak SMA IPA bakal mengambil alih pulpenku. Dia tidak pernah mengejekku lemot (paling cuma menghela napas dramatis yang bikin sebal), lalu mulai membedah rumus-rumus njuliet itu di atas kertas poos yang ujungnya akan terisi penuh oleh rumus matematika sampai aku memahaminya.
Sebaliknya, giliran dia yang mendadak buntu gara-gara tugas analisis data, tugas seni, atau saat dia butuh ketelitian ekstra khas anak Akuntansi, itu adalah giliranku untuk bertindak lebih maju. Jemari dan logika kalkulatorku yang bakal membereskan kekacauan itu sampai nilainya aman. Tapi peran dia di hidupku jelas tidak cuma berhenti di urusan tabel neraca atau rumus Matematika.
Dia juga sering sekali mengajakku olahraga, terutama bulu tangkis. Harus diakui, dia itu pemain bulu tangkis yang hebat. Setiap kali di lapangan, dengan sabarnya dia bakal membetulkan cara genggamanku pada gagang raket meski setelahnya kelakuan aslinya kumat lagi. Dia tidak pernah absen mengejek dan menertawakanku setiap kali pukulan raketku cuma menyabet angin alias gagal memukul shuttlecock lemparan dari dia. Muka ejekannya memang minta ditabok, tapi sesi lapangan itu selalu berhasil jadi momen paling seru buat lepas penat.
Di luar urusan sekolah dan lapangan, dia adalah sosok yang seru sekaligus tempat sampah dari segala keluh kesahku. Setiap kali aku merasa bosan, jenuh, atau mendadak ingin keliling kota tanpa tujuan, tidak perlu waktu lama untuk melihat motornya sudah terparkir di depan rumah. Beberapa kali juga, tanpa minta dijemput, helm cadangan sudah dia sodorkan di depan gerbang SMK-ku tepat saat bel pulang berbunyi.
Lucunya, di balik kelakuannya yang kocak dan suka bercanda, dia punya sisi protektif yang sering kali kelewatan. Tipe cowok yang bakal mengomel kalau aku lupa mengancingkan helm, sibuk overthinking menanyakan aku pulang sama siapa kalau tidak bersamanya, atau langsung memasang mode “kakak galak” kalau ada cowok lain yang mencoba bertingkah aneh di dekatku. Perhatiannya kadang menyebalkan, tapi jujur… selalu berhasil membuatku merasa aman.
Mengingat kami yang sebentar lagi bakal menginjak kelas 12, pembicaraan kami di pinggir Sungai Mahakam belakangan ini mulai bergeser. Tidak lagi cuma soal keluhan guru di sekolah atau recehnya drama remaja, tapi sudah mulai merambat ke hal yang jauh lebih besar: masa depan. Kami punya satu impian konyol yang sama kami ingin mendarat di universitas yang sama setelah lulus nanti.
Aku tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana hebohnya nanti. Kami mungkin berada di bawah satu gerbang kampus, tapi melangkah ke gedung fakultas yang saling membelakangi. Dia bakal berlari mengejar passion-nya di jurusan yang sudah lama dia incar, sementara aku akan tetap setia di jalurku, menyelami dunia Ekonomi yang makin dalam.
Pikirkan saja, dua orang yang dari kelas 1 SMP kerjanya main bareng dan waktu SMA saling barter tugas, nanti di dunia perkuliahan mungkin bakal sibuk saling tunggu di koridor kampus hanya untuk bertukar cerita soal dosen masing-masing. Bayangan itu terasa lucu, sekaligus manis. Kami tidak perlu dipaksa berada di jalur yang sama untuk bisa berjalan beriringan. Kami ini sepasang sahabat yang ke mana-mana selalu menempel, saling ledek, dan saling menyelamatkan dari bisingnya dunia. Di mata orang lain yang melihat kami menyusuri jalanan Samarinda dengan motornya di bawah langit sore, kami mungkin cuma dua anak remaja beda sekolah yang kebetulan dekat.
Tidak ada adegan pegangan tangan yang romantis, tidak ada kata-kata puitis lebay yang dia ucapkan, bahkan setiap awal pembukaan pembicaraan kami, akan selalu terdengar kalimat “eh, lu tau gak sih?”. Percayalah, kalo kalimat itu sudah keluar, tumpukan modul fisika dan tugas Akuntansi ku hanya akan menjadi pajangan di meja lipat tersebut.
Kisah kami memang cukup mengulangi pola yang sama, tapi pola-pola itu adalah pola pola indah yang akan selalu menemani dan kami kenang ketika kami sudah ada di fase berkumpul setelah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hubungan kami juga seringkali diwarnai oleh indahnya kesalahpahaman kecil, tentang aku yang selalu salah mengira kemana arah motornya akan membawa kami, tentang aku yang akan selalu bertanya suatu tempat dengan template yang sama, yaitu “kalo kira kira jaraknya kayak dari rumah ku sampe mana?”.
Setiap pertanyaan random kami, akan selalu terjawab, meskipun kadang kami menjawab nya pun dengan bercandaan hanya untuk terlihat keren di mata satu sama lain. Kisah ini mungkin terlalu panjang untuk di ceritakan, tapi akan selalu indah dan tersusun rapi di setiap ingatan kami.
Di balik angin sore Seri Mahakam yang bertiup pelan, di antara riak air sungai yang memantulkan warna jingga, rahasia ini tetap kutinggalkan dengan rapi. Ada rasa syukur yang tak terucap tiap kali melihat punggungnya dari balik helm, dan ada kepastian tenang bahwa dari zaman SMP hingga gerbang kampus nanti, dia adalah tempat paling aman tempatku bersandar. (*)



