Pariwara

Inovasi Kuliner Hadir di Desa Wisata Sangkuliman Kukar

Basumap dalam bahasa Suku Banjar berarti dikukus. Metode ini biasa dipakai untuk menyajikan kue. Khususnya saat Ramadan. Tapi di Desa Wisata Sangkuliman, Kukar, cara memasak dari Kalsel ini justru digunakan untuk ikan.

Proses memasak ini tersaji dalam kegiatan “Pengolahan Kuliner Inovatif Berbasis Ikan Lokal” di Desa Wisata Sangkuliman, belum lama ini. Aktivitas itu merupakan rangkaian dari Pendampingan Desa Wisata yang dilakukan tim dosen dari Polnes.

M. Fauzan Noor, Ketua Tim Pendamping Desa Wisata sekaligus Ketua Prodi D4 UPW Jurusan Pariwisata, mengatakan, proses pendampingan kali ini dilakukan untuk membawa Desa Wisata Sangkuliman ke tahap pengembangan destinasi berbasis potensi lokal.

Ia menyatakan, kegiatan ini merupakan wujud nyata dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan fungsi pengabdian kepada masyarakat. “Ini sekaligus kontribusi nyata Polnes memajukan desa wisata di Kaltim,” ucapnya.

Fauzan menegaskan, tujuan utama program ini adalah menjadikan Iwak Basumap sebagai ikon kuliner Desa Wisata Sangkuliman, sehingga mampu menjadi branding kuliner lokal yang membanggakan.

“Kami ingin Desa Sangkuliman bukan hanya dikenal karena alam Danau Semayang yang indah, tetapi juga karena kekuatan kulinernya. Iwak Basumap ini bisa menjadi daya tarik baru yang mengundang wisatawan untuk datang dan kembali lagi,” ungkapnya.

Menurut Fauzan, program Pendampingan Desa Wisata ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata berbasis kearifan lokal. “Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, Desa Wisata Sangkuliman diharapkan terus tumbuh sebagai destinasi unggulan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam proses kegiatan, Tim Pendamping menghadirkan Chef Anjar sebagai mentor profesional. Ia membimbing masyarakat dalam mengolah Iwak Basumap dengan bahan dasar ikan air tawar dari Danau Semayang. Sebanyak 6 dari 8 RT di Desa Sangkuliman, ikut serta. Masing-masing mengolah jenis ikan berbeda. Mulai dari Patin, Baong, Nila, Emas, hingga Repang.

Secara bergantian, Chef Anjar mendampingi setiap kelompok. Ia memastikan proses pengolahan mengikuti standar yang baik: dari pemilihan bahan, teknik memasak, hingga penyajian akhir. Setelah itu, tiap kelompok menyajikan hasil kreasinya di hadapan Tim Pendamping. Proses penilaian dilakukan berdasarkan kriteria rasa, tekstur, aroma, penampilan, kebersihan, kandungan gizi, dan kelayakan harga jual.

Hasilnya, suasana kegiatan terasa hangat. Masyarakat tidak hanya berlatih memasak. Tetapi juga belajar bagaimana sebuah produk kuliner dapat bernilai jual tinggi, sekaligus berdaya saing sebagai ikon di Desa Wisata Sangkuliman.

“Saya melihat potensi luar biasa dari Iwak Basumap ini. Dengan sedikit sentuhan inovasi, kuliner tradisional ini bisa naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas tanpa kehilangan cita rasa aslinya,” terang Chef Anjar, usai sesi penilaian.

Sementara itu, salah satu peserta sekaligus warga dari RT 2 Desa Sangkuliman, Raudah, mengaku bangga bisa berpartisipasi di kegiatan ini. “Selama ini kami hanya memasak Iwak Basumap untuk keluarga. Tapi setelah belajar bersama, saya jadi paham bagaimana cara mengolah dan menyajikan agar terlihat lebih menarik, bahkan bisa dijual. Semoga ini jadi peluang baru untuk ekonomi warga,” jelas Raudah. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button