Pariwara

Setelah Kuliner Basumat dan Madu Kelulut, Warga Desa Wisata Sangkuliman Belajar Jadi Barista

Desa Wisata Sangkuliman di Kukar, terus berinovasi dalam khasanah dunia kuliner. Setelah menghadirkan Iwak Basumap, Es Krim Madu Kelulut dan Kelapa Jelly Madu Kelulut, kali ini masyarakat di sana diperkenalkan dengan seni meracik kopi dan pembuatan mocktail nonalkohol sebagai bagian dari peningkatan kualitas layanan wisata.

Kegiatan ini digagas oleh Polnes melalui M. Fauzan Noor, Ketua Tim Pendamping Desa Wisata. Turut hadir sebagai narasumber I Wayan Sudarmayasa, dosen sekaligus sebagai Koordinator Prodi D3 Pariwisata Perhotelan, Jurusan Pariwisata, Polnes. Ia merupakan barista tersertifikasi dengan pengalaman panjang di bidang peracikan kopi dan minuman.

Dalam pelatihan ini, para anggota Pokdarwis BMT Desa Wisata Sangkuliman mendapatkan pembekalan lengkap mengenai dunia kopi. Mulai dari jenis kopi –Arabica, Robusta, Liberica, Excelsa– proses pascapanen, tingkat pemanggangan biji kopi –light, medium, dark roast– hingga metode penyeduhan manual dan mesin espresso.

Tidak berhenti di kopi, peserta juga dikenalkan dengan seni meracik mocktail nonalkohol. Sebuah minuman segar berbasis buah dan sirup alami yang kini banyak digemari wisatawan. Dengan kombinasi warna, rasa, dan kreativitas, mocktail menjadi sajian alternatif yang memperkaya variasi minuman di Desa Wisata Sangkuliman, sekaligus mempertegas identitas desa wisata ramah keluarga.

Kata I Wayan Sudarmayasa, Tujuan utama kegiatan ini adalah menyiapkan masyarakat agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. Melalui keterampilan barista dan mocktail, Sangkuliman diharapkan dapat menghadirkan pengalaman seperti di kafe modern, tetapi dengan nuansa khas pedesaan.
“Meracik kopi dan mocktail bukan sekadar soal rasa, tapi bagaimana menciptakan pengalaman hangat dan berkesan bagi wisatawan. Kehangatan kopi dan kesegaran mocktail adalah bagian dari hospitality desa wisata,” ujarnya.

Selain meningkatkan kualitas layanan, pelatihan ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan keterampilan barista dan mocktail, warga dapat mengembangkan usaha. Mulai dari kedai kopi sederhana di desa, menjual kopi bubuk lokal sebagai oleh-oleh khas, atau bahkan menawarkan paket wisata kopi yang menampilkan pengalaman lengkap dari penyeduhan hingga menikmati kopi di tepi Danau Semayang.

Potensi ini diyakini akan menambah sumber pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat branding Desa Wisata Sangkuliman sebagai destinasi kuliner dan hospitality.

Ketua Tim Pendamping Desa Wisata, M. Fauzan Noor menegaskan, “Kami ingin Desa Wisata Sangkuliman tidak hanya dikenal karena pesona alamnya, tetapi juga karena kualitas layanannya. Kopi dan mocktail bisa menjadi identitas baru desa wisata yang berdaya saing dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.”

Dengan adanya pelatihan barista dan mocktail ini, Desa Wisata Sangkuliman tidak hanya meningkatkan keterampilan warga, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi tren wisata yang semakin menuntut variasi layanan dan kualitas produk. “Sinergi antara perguruan tinggi, Pokdarwis, dan masyarakat menjadi pondasi penting dalam mewujudkan desa wisata mandiri, kreatif, dan berkelanjutan,” tutup Fauzan. (*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button